BANDA ACEH — Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil meminta pemerintah pusat segera turun tangan menangani bencana banjir dan longsor yang melanda wilayahnya sejak dua pekan terakhir. Ia menyebut dampak kerusakan di Aceh Utara lebih parah dari bencana tsunami Aceh 2004, terutama dari sisi luas wilayah terdampak dan besarnya kerusakan infrastruktur.
Bupati Bandingkan Dampak dengan Tsunami 2004
Saat meninjau lokasi terdampak pada Rabu (3/12/2025), Ismail mengaku terkejut melihat skala kerusakan di sejumlah kecamatan. Ia menyebut banyak korban belum ditemukan, sementara sejumlah fasilitas publik lumpuh total.
“Saya tidak tahu ini bagaimana. Banyak mayat belum kita temukan. Jalan-jalan putus, irigasi putus, tebing sungai putus, rumah hilang. Di Kecamatan Langkahan, satu desa hanya tinggal 18 rumah,” ujarnya.
Ismail menegaskan pemerintah pusat harus memberikan perhatian lebih besar karena bencana ini sudah melampaui kemampuan pemerintah daerah.
Pemkab Mengaku Tidak Mampu Menangani
Ismail mengungkapkan bahwa Pemkab Aceh Utara sudah menyampaikan surat resmi kepada presiden untuk meminta dukungan penanganan bencana. Menurutnya, skala kerusakan yang sangat luas membuat daerah tidak mampu menyediakan logistik, alat berat, hingga tenaga evakuasi sesuai kebutuhan.
Baca Juga : Polda Aceh dan Bapanas Intensifkan Inspeksi Pangan
“Kami tidak sanggup menangani. Kami ingin pemerintah pusat melihat kondisi ini dan membuka hati untuk Aceh Utara,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem yang berlangsung sejak awal November memicu banjir besar di 23 kecamatan. Air bah merendam permukiman, memutus jalur transportasi, dan menyeret rumah warga ke aliran sungai.
115 Ribu Warga Mengungsi, Banyak Kelompok Rentan
Data sementara Posko Utama mencatat 115.015 jiwa mengungsi, terbanyak dalam sejarah banjir Aceh Utara. Totalnya mencapai 34.506 keluarga, yang kini tersebar di ratusan titik pengungsian, termasuk sekolah, masjid, dan tenda darurat.
Pengungsi mencakup banyak kelompok rentan, antara lain:
-
198 ibu hamil
-
1.251 balita
-
1.687 lansia
-
54 penyandang disabilitas
Kondisi para pengungsi disebut memprihatinkan. Sebagian besar minim akses air bersih, selimut, dan kebutuhan sandang, sementara stok logistik mulai menipis. Petugas kesehatan juga melaporkan peningkatan kasus ISPA, diare, dan gatal-gatal.
121 Meninggal dan 118 Hilang
Posko Utama Banjir Aceh Utara melaporkan hingga Selasa (2/11/2025) pukul 23.30 WIB:
-
121 korban meninggal dunia
-
118 orang masih hilang
-
Puluhan warga luka-luka
-
Ribuan rumah rusak berat dan tersapu banjir
Sebagian korban hilang diduga terseret arus deras setelah tanggul dan tebing sungai jebol akibat curah hujan ekstrem.
Baca Juga : Rahmat Tempuh Perjalanan 7 Jam Demi Bahan Makanan
Infrastruktur Rusak Berat
Sejumlah infrastruktur vital juga mengalami kerusakan parah, di antaranya:
-
Ruas jalan penghubung antar kecamatan putus
-
Irigasi pertanian rusak
-
Jembatan gantung dan beton ambruk
-
Rumah warga hanyut
-
Fasilitas publik seperti sekolah dan puskesmas terendam
Kerusakan ini membuat sejumlah desa terisolasi dan sulit dijangkau tim SAR.
BPBD Kerahkan Tim, Tapi Terkendala Alat Dan Akses
BPBD Aceh Utara telah mengerahkan personel, namun upaya evakuasi terkendala akses yang terputus dan alat berat yang terbatas. Selain itu, beberapa wilayah masih terendam banjir hingga dua meter sehingga hanya bisa dijangkau menggunakan perahu karet.
Relawan, TNI/Polri, dan organisasi kemanusiaan mulai memperkuat operasi pencarian korban dan penyaluran logistik. Namun pemerintah daerah menilai upaya tersebut tetap belum cukup, mengingat luas wilayah terdampak mencapai puluhan desa.
Harapan Bupati: Pemerintah Pusat Harus Segera Hadir
Ismail menegaskan bahwa dukungan pemerintah pusat sangat dibutuhkan, terutama bantuan alat berat, helikopter untuk distribusi logistik, serta tambahan tim SAR untuk mempercepat pencarian korban.
“Ini bukan bencana kecil. Ini bencana besar. Kami berharap pemerintah pusat hadir sesegera mungkin,” pungkasnya.











