Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menegaskan bahwa Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) merupakan salah satu pintu gerbang utama Aceh ke dunia luar. Bandara yang terletak di Blang Bintang, Aceh Besar, ini terbukti mendongkrak perekonomian daerah sekaligus memperkuat posisi Aceh sebagai destinasi religi, wisata, dan investasi.
Hal itu ia sampaikan saat membuka acara Collaborative Destination Development (CDD) Bandara SIM di Aceh Besar, Rabu (10/9). Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, maskapai penerbangan, hingga komunitas masyarakat.
Tiga Dimensi Konektivitas
Menurut Fadhlullah, pengembangan konektivitas udara Aceh memiliki tiga dimensi penting: agama, pariwisata, dan ekonomi.
“Aceh dengan kultur Islam yang kuat memiliki potensi besar sebagai embarkasi jamaah umrah dan haji. Penguatan konektivitas langsung ke Tanah Suci bukan hanya mempermudah perjalanan jamaah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Baca Juga : Kemenkum Aceh dan Polda Sepakat Perkuat Sinergi Penegakan Hukum
Ia menambahkan, jalur penerbangan langsung ke Jeddah atau Madinah akan memangkas biaya perjalanan, mempersingkat waktu tempuh, dan membuka peluang bisnis baru, seperti layanan katering, transportasi, hingga akomodasi bagi jamaah transit.
Potensi Wisata Alam dan Budaya
Selain aspek religi, Aceh juga memiliki daya tarik wisata yang luar biasa, mulai dari pantai-pantai indah, ekowisata bahari, hingga kekayaan sejarah dan religi. Menurutnya, keberadaan Bandara SIM yang terkoneksi langsung dengan kota-kota besar di Asia Tenggara dan Timur Tengah akan mendorong lonjakan kunjungan wisatawan.
“Dengan konektivitas udara yang lancar dan berkelanjutan, kunjungan wisatawan akan meningkat, investasi masuk lebih banyak, dan branding Aceh di kancah global semakin kuat,” ujarnya.
Sejumlah destinasi populer seperti Sabang, Takengon, dan Bener Meriah diyakini akan semakin mudah diakses oleh turis mancanegara apabila rute penerbangan internasional diperluas.
Dampak Ekonomi dan Perdagangan
Fadhlullah juga menekankan bahwa jalur penerbangan langsung membuka ruang pergerakan barang dan jasa yang lebih cepat dan efisien. Hal ini berpotensi meningkatkan daya saing daerah sekaligus memperluas jejaring perdagangan Aceh dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, hingga negara-negara Timur Tengah.
“Kita ingin memastikan bahwa pengembangan Bandara Sultan Iskandar Muda benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat Aceh. Konektivitas udara yang lebih baik akan mendukung ekspor komoditas unggulan Aceh, memperkuat logistik, serta menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru,” tegasnya.
Baca Juga : Mualem Kumpulkan Bupati dan Wali Kota se-Aceh
Ajakan Kolaborasi
Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak semua pihak untuk saling terbuka, berdiskusi secara konstruktif, serta menyusun langkah implementasi yang terukur. Menurutnya, pemerintah, swasta, komunitas, dan masyarakat lokal harus bersinergi untuk menentukan keberhasilan pengembangan bandara.
“Semua pihak harus bersatu, karena pengembangan konektivitas udara bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan membuka peluang masa depan bagi Aceh,” tuturnya.
Bandara SIM Sebagai Hub Regional
Bandara SIM selama ini melayani penerbangan domestik ke sejumlah kota besar di Indonesia, serta penerbangan internasional ke Kuala Lumpur. Dengan rencana penambahan rute ke negara lain, pemerintah daerah berharap bandara ini bisa menjadi hub regional yang memperkuat posisi Aceh sebagai gerbang barat Indonesia.











