1:Potret Toko Konvesional di Idi Rayeuk Terancam Tutup Permanen
INews Aceh Potret Toko Konvesional pusat kota Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, dilaporkan mengalami penurunan omset drastis dalam beberapa bulan terakhir. Banyak di antara pedagang mengeluh sepi pembeli, bahkan beberapa toko mulai menutup usahanya karena tidak sanggup menanggung biaya operasional.
Menurut pantauan di lapangan, toko-toko yang menjual sembako, pakaian, dan peralatan rumah tangga hampir tak terlihat pembeli. Para pemilik menyebut lesunya daya beli masyarakat serta meningkatnya minat belanja online sebagai penyebab utama.
“Dulu bisa jual 10-15 potong baju sehari, sekarang kadang nggak laku satu pun,” ujar Hasanah (52), pemilik toko pakaian di kawasan Pasar Idi. Ia berharap ada bantuan dari pemerintah daerah tetap bertahan.
2: Potret Toko Konvesional Ketika Toko Tradisional Idi Rayeuk Kian Sepi, Siapa yang Harus Bertindak?
Oleh: Irfan Nurdin – Pemerhati Ekonomi Daerah
Toko-toko konvensional di Idi Rayeuk kini menghadapi tantangan eksistensial. Dengan menjamurnya e-commerce dan platform belanja daring, toko fisik—yang dulu jadi pusat ekonomi lokal—kian kehilangan daya saing.
Namun, menyalahkan internet saja tidak cukup. Masalahnya lebih dalam: keterbatasan adaptasi digital, minimnya dukungan promosi, hingga kurangnya pembinaan UMKM oleh pemerintah daerah.
Jika dibiarkan, bukan hanya pedagang yang rugi. Kita juga kehilangan denyut ekonomi lokal, relasi sosial khas kampung, dan lapangan kerja informal. Perlu aksi nyata dari pemda, koperasi, dan masyarakat itu sendiri agar toko konvensional tetap relevan di era modern
Baca Juga: Kapal Nelayan Idi Cut – Aceh Timur Dihantam Ombak, 2 ABK Hilang Tenggelam
3: Dulu Ramai, Sekarang Sunyi”: Curhat Pemilik Toko Konvensional di Idi Rayeuk
Bagi Pak Idris, toko kelontong miliknya adalah sumber hidup sejak 1995. Tapi kini, meja kasirnya lebih sering kosong dari pembeli. “Anak-anak muda sekarang lebih pilih belanja online. Kami yang tua-tua ini kalah saing,” katanya lirih.
Setiap pagi, Pak Idris membuka toko jam 7. Tapi hari-hari berlalu dengan penghasilan yang tak cukup untuk sekadar bayar listrik dan sewa tempat. “Kalau begini terus, bisa tutup total,” tambahnya.
Kisah Pak Idris adalah cermin nasib banyak toko konvensional di Idi Rayeuk. Mereka bukan sekadar tempat jual beli, tapi bagian dari wajah kota. Jika toko seperti ini hilang, maka hilang pula sebagian identitas kota kecil ini.
4: Toko Konvensional Terdesak Digitalisasi, Warga Idi Rayeuk Bisa Apa?
Di tengah perubahan zaman, toko-toko konvensional di Idi Rayeuk terdesak oleh belanja daring dan minimarket berjaringan. Ini bukan hanya soal gaya hidup, tapi juga persoalan struktur ekonomi.
Sayangnya, sebagian besar pedagang konvensional belum siap beradaptasi. Mereka tidak paham pemasaran digital, tidak punya akses ke sistem pembayaran elektronik, dan minim pelatihan bisnis modern.
Sebagai warga, kita bisa bantu dengan cara sederhana: belanja di toko tetangga, promosikan usaha kecil lewat media sosial, dan ajak mereka belajar teknologi. Jangan biarkan mereka ‘gulung tikar’ tanpa perlawanan.
5. Toko-Toko Lama di Idi Rayeuk Mulai Tutup Satu per Satu, Sedih Lihatnya…
Dulu, Pasar Idi Rayeuk itu hidup banget. Anak-anak sekolah, ibu-ibu belanja, semua numpuk di toko-toko lokal. Tapi sekarang? Banyak toko tutup, atau buka tapi nggak ada pembeli.
Tanya punya tanya, ternyata banyak yang pindah ke belanja online atau ke swalayan besar. Padahal toko-toko ini yang dulu bantu kita pas susah, kasbon boleh, harga bisa nego, dan rasanya lebih akrab.
Miris sih. Kalau begini terus, beberapa tahun lagi bisa habis semua toko lama. Yuk ah, sekali-kali belanja lagi di toko tradisional, bantu mereka bertahan. Karena mereka bagian dari kenangan dan identitas kota ini.







