Banda Aceh – Ribuan Personel Gabungan Amankan Aksi Aliansi Rakyat Aceh di Gedung DPRA. Tim gabungan dari TNI, Polri, dan Satpol PP dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Rakyat Aceh di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Senin (1/9/2025). Aksi ini mendapat perhatian luas karena mengundang ribuan massa dari berbagai daerah di Aceh.
Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, mengungkapkan, pihaknya menurunkan 1.096 personel gabungan untuk menjaga keamanan jalannya aksi. Dari jumlah itu, sebanyak 190 orang berasal dari unsur TNI, sementara sisanya terdiri atas jajaran Polri, termasuk pasukan Brimob, dan anggota Satpol PP.
“Semua kekuatan sudah kami siapkan, termasuk antisipasi berbagai tingkatan eskalasi situasi. Namun kami berharap kondisi tetap dalam zona hijau. Jangan sampai meningkat menjadi situasi merah,” tegas Joko saat ia menemui awak media di lokasi.
Baca Juga : Kita Buktikan Aceh Bumi Serambi Mekkah
Antisipasi Eskalasi Aksi
Petugas keamanan sudah melakukan pemetaan potensi kerawanan sejak awal. Brimob yang bertugas tampak mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, termasuk tameng dan helm pelindung. Selain itu, senjata pelontar gas air mata juga telah disiagakan sebagai langkah antisipasi jika situasi tidak terkendali.
Untuk mencegah provokasi dan kemungkinan kerusuhan, polisi juga memasang spanduk imbauan aksi damai di sejumlah titik sekitar gedung DPRA. Spanduk itu berisi ajakan agar massa menyampaikan aspirasi dengan tertib tanpa melakukan tindakan anarkis.
Massa Mulai Padati Sekitar Gedung
Sejak pagi, masyarakat dan pedagang kaki lima sudah memadati kawasan sekitar gedung DPRA untuk memanfaatkan momentum aksi. Ratusan dus berisi air mineral dalam kemasan menumpuk di pinggir jalan untuk dibagikan kepada peserta aksi. Kondisi ini membuat suasana di sekitar lokasi terlihat ramai dan padat.
Sekolah Daring Selama Aksi
Dampak dari aksi besar ini juga dirasakan dunia pendidikan. Seluruh sekolah di Banda Aceh, mulai dari jenjang TK, SD, SMP hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), terpaksa melaksanakan proses belajar mengajar secara daring.
Baca Juga : Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah Pimpin Gerakan Pangan Murah
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakri, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diambil untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sekaligus merespons keresahan para orang tua.
“Benar. Kami menginstruksikan semua satuan pendidikan, dari TK hingga PKBM, melaksanakan pembelajaran daring. Sulaiman menegaskan, orang tua harus memastikan anak-anak aman di rumah dan tidak membiarkan mereka keluar untuk menyaksikan apalagi mengikuti aksi.
Guru dan Tenaga Pendidik Bekerja dari Rumah
Selain siswa, para pendidik dan tenaga kependidikan juga menjalankan tugas dengan sistem Work From Home (WFH). Untuk kehadiran, pihak dinas tetap memberlakukan absensi wajah melalui aplikasi yang dikelola admin Disdikbud.
Sulaiman menambahkan, untuk kegiatan belajar pada 2 September 2025, pihaknya masih menunggu perkembangan situasi. “Kami akan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Surat edaran terbaru ini sekaligus mencabut instruksi sebelumnya yang tidak berlaku lagi,” tegasnya.
Harapan Aksi Damai
Pihak kepolisian berharap aksi demonstrasi berlangsung damai dan aspirasi rakyat bisa tersampaikan dengan baik tanpa menimbulkan gangguan keamanan. Aparat menekankan bahwa kehadiran ribuan personel bukan untuk membatasi aksi, melainkan untuk menjamin keamanan baik bagi peserta demo maupun masyarakat umum.











